Beasiswa Bukan Bea Hidup

Posted: Juni 3, 2010 in Artikel Umum
Tag:

Secercah harapan saat berada pada jalan buntu kemudian menemukan pencerahan. Mungkin itulah yang dapat menjelaskan bagaimana rasanya seorang mahasiswa yang tidak mampu mendapatkan kucurang dana segar untuk biaya pendidikannya. Itulah esensi beasiswa yang sebenarnya. Untuk membiayai kegiatan akademik yang mereka sedang jalani. Bukan sekedar hadiah dari bungkus makanan ringan yang kadang-kadang tertulis anda kurang beruntung dan meminta untuk coba kembali.

Sudah menjadi polemik berkepanjangan, dimana beasiswa digunakan untuk memperkaya diri. Mungkin sebagian dari mereka yang ingin memperkaya diri itu kurang mengerti akan esensi dari beasiswa. Atau bahkan tahu namun tidak peduli akan itu. Dilemma antara sisi ketidakpuasan manusia dan rasa kemanusiaan mereka. Lihatlah sudut kota Bandung, dimana sebuah kampus berdiri megah. Kampus Islami namun penuh intrik. Manusiawi namun tidak mengerti arti kemanusiaan. Tentunya untuk sebagian pihak. Disini beasiswa menjadi ajang memperkaya diri. Banyak manuver yang dilakukan oleh setiap manusia untuk mendapatkan kesempatan uang dingin.

Sungguh ironi jiga dana bantuan yang seharusnya diperuntukan pada mahasiswa yang benar-benar tidak mampu namun dijatahkan untuk sekelompok mahasiswa tertentu yang aktif pada organ tertentu. Kesenjangan terjadi ketika satu mahasiswa yang tidak layakk mendapatkannya secara berkelanjutan mendapatkan beasiswa secara berulang. Dan tidak objektif saat dana bantuan jalur prestasi masuk ke kantong mahasiswa yang jarang mengikuti perkuliahan.

Inilah awal kehancuran moral Indonesia. Dimana tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan tidak mendapatkan sesuai porsinya. Dana bantuan ini diberikan pemerintah pada universitas yang kemudian disebarkan oleh pihak kampus pada mahasiswa yang benar-benar membutuhkan dan pantas mendapatkannya. Jalur efektifitas terputus karena munculnya kepentingan masing-masing.

Perumpamaannya ketika isu pembukaan pendaftaran beasiswa tidak transparan. Transparansi menjadi kabut tebal saat sebuah kepentingan menghalanginya. Saat isu tersebut muncul hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Dan jatah beasiswa yang seharusnya diberikan tepat sasaran telah dialokasikan untuk pihak terentu. Dan lihatlah ketika orang picik yang mengetahui isu itu lebih awal. Setidaknya dia akan mendaftarkan diri terlebih dahulu lalu menyebarkannya. Proyek individualisme. Oportunis ketika diri sendiri menjadi prioritas.

Dimana letak lembaga kampus yang menaungi kemahasiswaan?. Yang seharusnya menjadi tempat sandar dan membuka sandaran bagi mahasiswa tidak mampu. Dimana peran sebuah himpunan yang menjadi tempat tinggal untuk mahasiswa tersebut?. Tidak adakah simpatik jika mengenai uang?. Manusiawi memang, namun buatlah hidup kita lebih bermakna untuk mengerti keadaan orang lain. Buatlah hidup kita lebih berguna untuk tidak menguntungkan diri sendiri. Dan bijaksanalah pada kedudukan.

Bagaimana seharusnya kita menyikapinya?. Tentunya kita harus berusaha professional dalam menjalani tanggungjawab apa yang diberikan Tuhan. Biarkan dana itu tersalurkan semestinya dan tidak tersendat untuk kalangan atas. Dan sedikit kita mengaca pada diri sendiri. Dimana letak hak kita untuk mendapatkannya. Tidak perlu ada jatah alokasi rutin, dan biarkan orang yang berhak mendapatkannya. Bukakan pintu untuk “mereka” mendapatkan kesempatan bangkit dari keterbatasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s